Renungan

Renungan Natal: "Keluarga yang Dipakai Tuhan
  • Nats Pembimbing Yesaya 9:1-2,5
  • Nats Renungan Lukas 1:1-7

Bicara natal saudara-saudara kekasih, kita kembali diingatkan pada masa-masa masih kecil, ada sesuatu yang beda dari yang biasa kita lakonkan sehari-hari. Begitu banyak orang mau menyambut Natal. Tidak peduli dari agama manapun, moment Natal adalah moment dinanti-nantikan, tentu bukan karena maknanya, tetapi lebih karena hari liburnya, apalagi hari penuh promo barang-barang baru. Bagi banyak orang Natal sekadar hari libur menjelang akhir tahun yang dinantikan, bisa kumpul dengan keluarga, terima bonus akhir tahun. Banyak orang Kristen juga demikian, ikut arus zaman dimana hanya menjalani rutinitas perayaan natal, pergi ke gereja menghadiri kebaktian Natal, ikut memasang pohon Natal dan pernik-perniknya, tetapi melupakan makna Natal yang sesungguhnya. Hari ini kita bicara tentang natal yang berbeda yaitu natal dalam keluarga dengan tema Keluarga yang dipakai Tuhan.

Selanjutnya...

Renungan Singkat

"Hidup bisa memberi kita 100 alasan buat menangis, tapi Tuhan memberi kita 1000 alasan untuk tersenyum."

Tanpa Nama

Stats Counters


Visits today:19
Visits yesterday:66
Visits in this month:1472
Visits in previous month:1739
Visits in this year:20211
Visits total:34202
Kristen | Aras Gereja
PGLII PDF Cetak E-mail Dibaca: 990
PostAuthorIcon Majelis Umat Kristen Indonesia    PostDateIcon Sabtu, 12 Mei 2012 06:34

Sejarah PGLII

I. Pendahuluan

Dua tahun setelah Oikumenis WCC ( World Council of Churches) dibentuk pada tahun 1984 di Amsterdam – Belanda, pada tahun 1951 dalam Konvensi Internasional Evangelikal di Wondschoten dibentuklah organisasi World Evangelical Fellowship (WEF) atau Persekutuan Injili Se- Dunia. WEF menjadi wadah internasional bagi berbagai organisasi Kristen Injili. Sejak tahun 2002, World Evangelical Feelowship (WEF) berubah namanya manjadi World Evangelical Alliance (WEA).

Dua gerakan misi Kristen modern dicirikan oleh dua pola pendekatan, yang satu oikumenikal dan yang lainnya evangelical. Gerakan misi ini tentunya sangat berpengaruh bagi gerakan misi di Indonesia yang akhirnya juga terpolarisasi pada dua gerakan misi, yaitu oikumenikal dan evangelical.

Gerakan evangelical di Indonesia menemukan bentuknya melalui pergumulan yang intens dari tokoh-tokoh injili pada bulan Juni 1971 di City Hotel Jakarta dan pada bulan Juli 1971 di Batu, Malang – Jawa Timur, yang kemudian melahirkan Persekutuan Injili Indonesia (PII)

II. Lahirnya Persekutuan Injili Indonesia

Dalam catatan sejarah PII, kami melihat bahwa tolak ukur utama dalam pergumulan untuk mewujudkan gerakan bersama kaum injili di Indonesia adalah “persekutuan.” Kata kunci ini menjadi acuan awal dari gerakan, yang oleh karenanya sejak awal tahun 1969 tokoh – tokoh injili di Indonesia ketika membidani lahirnya gerakan dan wadah besar (PII) dimulai dengan kegiatan yang kelihatannya kecil tetapi memiliki “power” yang sangat besar dan luar biasa, yaitu “ persekutuan.”

Tokoh – tokoh injili menjadikan “persekutuan “ sebagai wahana dan wacana untuk :
1. Membahas beban bersama dalam bidang pekabaran Injil dan misi di Tanah Air.
2. Menggumuli kebutuhan akan suatu wadah bagi Gereja, lembaga dan badan misi Injili
di Indonesia.
3. Menampung aspirasi dari Gereja, yayasan dan badan-badan misi di Indonesia.
4. Bersekutu dan bersama-sama memberitakan Injil.

Persekutuan dan pergumulan bersama yang dilakukan selama dua tahun akhirnya melahirkan wadah yang besar dalam arus gerakan misi injili bagi gereja, lembaga, yayasan dan badan-badan misi injili di Indonesia.

Mendahului lahirnya Persekutuan Injili Indonesia, di Ramayana Hotel City, Tanah Abang- Jakarta, pada tanggal 15 Juni 1971 diselenggarakan persekutuan / pertemuan yang dihadiri oleh l.k 100 hamba-hamba Tuhan.

Dalam pertemuan tersebut disepakati 4 hal penting :

1. Nama wadah pelayanan/perjuangan bersama adalah Persekutuan Injili Indonesia
2. Pengurus (sementara) ditetapkan sebagai berikut :
Ketua : Pdt. DR. Petrus Octavianus
Sekretaris : Pdt. Willem Hekmann
Bendahara : Philip Leo
3. Pengurus (sementara) bertugas mempersiapkan Kongres Nasional I Persekutuan Injili
Indonesia.
4. Pengurus (sementara) bertugas mempersiapkan konsep rumusan mukadimah lahirnya
Persekutuan Injili Indonesia dan konsep AD/ART Persekutuan Injili Indonesia.

Pada tanggal 17 Juli 1971 di Batu, Malang – Jawa Timur dirumuskan lahirnya Persekutuan Injili Indonesia (PII) dengan moto ” Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil” yang didasarkan pada Matius 28 : 19 dan Galatia 5 : 1. Momentum ini ditetapkan sebagai hari lahirnya Persekutuan Injili Indonesia.

Tokoh – tokoh yang terlibat secara intens dalam pergumulan proses lahirnya PII adalah sebagai berikut : Bp. Pdt. DR. P. Octavianus, Bp. Pdt. DR. Ais. M. O. Pormes, Bp. Pdt. G. Neigenfrad, Bp. Pdt. W. Hekmann, Bp. Brigjen (purn) N. Huwae, Bp. Philip Leo, Bp. S. O. Bessie, Bp. Pdt. DR. HL. Senduk, dan Bp. Ev. S. Damaris, Pdt. Ernest Sukirman dan Pdt. Andreas Setisawan.

Sekilas PII

Persekutuan Injili Indonesia (PII) didirikan pada tahun 1971 dengan motto yaitu “Dipanggil untuk Bersekutu dan Memberitakan Injil”. Dari sana kita dapat menarik kesimpulan bahwa setidaknya ada dua hal yang bersifat hakiki bagi PII, yaitu “ bersekutu” dan “memberitakan Injil.” Apabila kedua hal tersebut diabaikan, PII bukanlah PII lagi. Hal-hal yang lain pada batas tertentu boleh be rubah sesuai dengan perkembangan zamannya, namun kedua hal yang bersifat esensial ini harus dilestarikan.

Makna dari kata bersekutu, didalam konteks kristiani, akan nampak dengan jelas apabila kita melihat konsep tubuh Kristus di dalam Alkitab. Tubuh Kristus terdiri dari pelbagai anggota yang berbeda, bersatu dalam ikatan kasih. Di dalam kepelbagaiannya setiap anggota saling melengkapi satu sama lain, tidak ada yang merasa lebih penting ataupun yang dianggap kurang penting (baca 1Kor 12:12-26). Dengan kata lain, didalam tubuh Persekutuan Injili Indonesia semua anggota berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah, setara dan saling menghargai satu sama lain.

Apabila kata bersekutu lebih menunjukkan sifat dari keberadaan PII, maka kata-kata ”memberitakan Injil” lebih menunjukkan tujuan dari keberadaannya. Dengan kata lain, seluruh anggota PII menyadari bahwa Tuhan bukan memanggil mereka untuk bersekutu hanya sekedar agar mereka bersekutu belaka, tetapi ada misi didalam persekutuan tersebut yaitu memberitakan Injil. Hal ini juga menunjukkan bahwa bagi setiap anggota PII pemberitaan Injil, yang merupakan manifestasi dari iman kita kepada karya penyelamatan Allah di dalam Tuhan Yesus, merupakan hal yang tak dapat ditawar. Panggilan untuk mengemban amanat Agung ini kita junjung tinggi apapun harga yang harus dibayar untuk hal itu.

Misi dan Visi

VISI
1. Memelihara kemurnian asas Ijili.
2. Menggalang persekutuan sebagai perwujudan organisme yang hidup yaitu tubuh
Kristus yang Kudus dan Am. 
3. Mendorong usaha-usaha pekabaran Injil yang dilakukan oleh gereja-gereja, dan
lembaga-lembaga Injili.

MISI
1. Membela dan meneguhkan theologia Injil sesuai dengan kemurnian asas Injili.
2. Memajukan pekabaran Injil dengan cara membantu anggota-anggota PII dalam
pelayanan di bidang penginjilan, misi, pendidikan dan pelayanan masyarakat.
3. Mewujudkan persekutuan dan pelayanan dalam terang Injil dengan cara
mengintensifkan komunikasi serta meningkatkan motivasi dalam rangka koordinasi,  
integrasi dan sinkronisasi usaha-usaha pelayanan anggota-anggota PII.
4. Menjalin kerjasama dengan induk organisasi gerejawi yang lain sebagai mitra
pelayanan.
5. Menjadi mitra pemerintah dalam pembangunan nasional.

Pengurus Pusat PGLII

Majelis Pertimbangan

Ketua: Pdt. Dr. Ir. Bambang H. Widjaja, MA

Anggota
Pdt. DR. Petrus Octavianus
Pdt. DR. Chris Marantika
Letjen TNI (purn) HBL Mantiri
Mayjen TNI (purn) Pranowo
Pdt. DR. SJ Sutjiono
Pdt. Daniel Henubau, STh
Pdt. DR. Jacob Tomatala
Pdt. DR. Niko Njotorahardjo
Pdt. DR. Ruyandi Hutasoit
Ny. Mieno Menayang
Pdt. DR. Jimmy Oentoro
Prof. Ir. Samuel Tirtamihardja, MBA, MSc
Frits Willy Triman
Pdt. Ronny Sigarlaki, SH

Ketua Umum
Pdt. Dr. Nus Reimas

Sekretaris Umum
Pdt. Dr. M Sudhi Dharma, Mth

Wakil Sekretaris Umum :
Pdt. Drs. Ign Dachlan Setiawan, MA

Bendahara Umum
Pdm. Peter Tjondro E. Santoso, STh

Wakil Bendahara Umum
Pdt. Benny Joshua

Komisi Jaringan Kelembagaan
Ketua : Pdt. DR. Roland Octavianus
Anggota : Pdt. Ir. Rachmat Manullang, Msc ; Pdt. DR. Rubin Adi Abraham

Komisi Jaringan Pelayanan Masyarakat
Ketua : Iwan Marantika, MBA
Anggota: Ev. M. Bambang Soewono ; Ny.Sri Rastiti

Komisi Jaringan Pelayanan Misi
Ketua : Pdt. Paul Paksoal, M.Div
Anggota : Pdt. DR. Dicky Ngelyaratan ; Pdt. Yerry Tawalujan, Mth

Komisi Pemberdayaan Kelompok Profesional
Ketua : Pdt. Dr. Sulijanto Leories
Anggota: Charles Yonan

Komisi Pemberdayaan Perempuan
Ketua : DR. Erika Damayanti, SH, CN, MA
Anggota : Pdt. Ny. Nyoman Priskilla, M.Div ; Adriana Mangontan, SE

Komisi Pemberdayaan Pemuda
Ketua : Pdt. Jose Carol, Dipl. Ing
Anggota : Pdt. Jeffry Kurniawan, MSc

Komisi Penelitian dan Pengembangan
Ketua : Pdt. Budi Setiawan, M.Div
Anggota : Pdt. Prist Kuasa Depari ; Hendra Haryanto, SH, SE, MM

Komisi Advokasi, Hukum dan HAM
Ketua : Pdt. Ronny Mandang, STh
Anggota : Deddy A. Madong, SH ; Reggie Tentero, SH