Iklan by MUKI

Renungan

KEMENANGAN YANG ABADI

KEMENANGAN YANG ABADI, Lukas 24:1-9

Shalom saudara(i). Minggu prapaskah mengingatkan bersiap sambut hari kemenangan. Ada enam lilin dinyalakan serentak dan dimatikan satu tiap minggu sampai tiba minggu sebelum Jumat Agung. Paskah merupakan lanjutan peristiwa dari minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Peristiwa ini saling terkait satu dengan lainnya. Paulus menulis: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (I Korintus 15:3-4). Paskah peristiwa terbesar dalam sejarah dan menyakinkan bahwa Kristus telah disalibkan dan telah mati dan telah dikuburkan dan telah bangkit pada hari ketiga. Bangkit artinya memenangkan kuasa alam maut. Kematian bukan akhir hidup, tetapi dimulainya kehidupan lain yang berbeda. Lukas menulis secara rinci tentang peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus.

Selanjutnya...

Renungan Singkat

"Cinta bisa buat orang bahagia; uang bisa buat dunia berputar; tapi sahabat... ah, itu yang buat hidup lebih hidup."

Tanpa Nama

Kristen | Editorial
Prosesi Kematian PDF Cetak E-mail Dibaca: 1639
PostAuthorIcon Ega Mawardin    PostDateIcon Selasa, 30 Desember 2014 15:17

Kematian memang tidak pernah dapat diperkirakan datangnya, kala mengunjungi tiap-tiap orang secara terpisah ataukah kalau kematian itu datang dalam waktu yang bersamaan. Kematian yang alami 102 penumpang dan awak pesawat Adam Air tanggal 1 Januari 2007 dengan rute Surabaya-Manado yang jatuh di Selat Makassar, sampai kini masih belum ditemukan dimana sesungguhnya kuburan penumpangnya. Hilangnya pesawat Malaysia Airlines 370 tanggal 8 Maret 2014 dengan route Kuala Lumpur- Beijing juga turut itu hilang 12 awak dan 227 penumpang sampai saat ini belum juga diketahui rimbanya. Dan pagi Minggu 28 Desember 2014, pesawat penumpang Air Asia rute  Surabaya-Singapura hilang di perairan Belitung Timur yang juga mengangkut 162 awak dan penumpang. Kita berharap dan bukan hanya untuk menghibur diri bahwa semua awak dan penumpangnya selamat. Itu hanyalah sebuah harap semata, sebuah doa dalam hati, karena pengalaman sejarah bercerita pesawat hilang jika tidak ditemukan dalam waktu tertentu kemungkinan ada penumpang yang selamat itu sangat kecil.

Memang kematian kala berkunjung tak ada satupun yang mampu menghindar darinya. Kematian itu otoritas Allah yang tidak bisa lagi di tawar-tawar, meminta sekedar untuk ditunda karena kita punya pekerjaan lain yang harus segera diselesaikan lebih dahulu. Tidak seperti vonis hukuman mati pada narapidana kasus narkoba yang dapat saja digeser-geser oleh mereka yang punya kuasa agar dapat memberikan waktu bertobat, membenahi diri sebelum menuju perjalanan ke alam baka.

Betapa kematian kini tak lagi memiliki arti, betapa nyawa kini sangat rendah nilainya. Setiap hari ada saja orang mati tak wajar apakah itu di bunuh, kecelakan lalulintas, ataukah kematian dalam kerusuhan, di bakar hidup-hidup. Mereka semua sama mati seperti juga yang terjadi pada kecelakaan pesawat Adam Air, Malaysia Airlines ataupun Air Asia. Kematian mereka tidak pernah terpikirkan dan mungkin saja tak pernah menikmati saat-saat kematian itu berkunjung menemui. Mereka tak pernah sempat mempersiapkan diri dalam memasuki perjalanan yang baru menuju dunia orang mati.

Sesungguhnya kematian itu harusnya dapat dinikmati datangnya. Setiap kita sudah lebih dahulu mempersiapkan diri agar kelak jika tiba waktunya Allah menghendaki kita mati, kita sudah siap menjalaninya. Pintu tobat sudah kita lalui, sehingga kita dengan sigap dapat menyongsong kematian itu dengan sukacita penuh. Keluarga yang ditinggal tentu saja juga siap sekalipun berurai air mata menghantar jenazah dalam prosesi sakral ke penguburan tetapi setidaknya sudah nyakin yang sedang diarak, yang sedang dipikul ke pemakaman itu adalah orang yang mereka cintai. Tragis memang penumpang Adam Air, Malaysia Airlines dan Air Asia sekiranya juga bernasib sama nantinya, seluruh penumpangnya tidak sempat memberikan kesempatan kepada keluarganya untuk melaksanakan prosesi kematian seperti lazimnya yang mereka pernah saksikan untuk orang-orang mati.

Kematian cepat atau lambat akan tiba juga waktunya, ia akan menggunjungi kita masing-masing yang masih hidup di dunia yang fana ini. Karenanya sebelum waktunya tiba, sebelum otoritas Allah itu berlaku bagi kita setiap pribadi, baiklah kita berbenah merapikan tingkah laku, merapikan sikap kita masing-masing semasih ada waktu. Itulah harap kita semua.

Add comment

Komentar tidak mewakili pandangan umum Majelis Umat Kristen Indonesia. Dilarang untuk berkomentar yang mengandung hujatan, fitnah, SARA dan lainnya yang merusak kedamaian. MUKI berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dianggap tidak layak


Security code
Refresh