Iklan by MUKI

Renungan

KEMENANGAN YANG ABADI

KEMENANGAN YANG ABADI, Lukas 24:1-9

Shalom saudara(i). Minggu prapaskah mengingatkan bersiap sambut hari kemenangan. Ada enam lilin dinyalakan serentak dan dimatikan satu tiap minggu sampai tiba minggu sebelum Jumat Agung. Paskah merupakan lanjutan peristiwa dari minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Peristiwa ini saling terkait satu dengan lainnya. Paulus menulis: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (I Korintus 15:3-4). Paskah peristiwa terbesar dalam sejarah dan menyakinkan bahwa Kristus telah disalibkan dan telah mati dan telah dikuburkan dan telah bangkit pada hari ketiga. Bangkit artinya memenangkan kuasa alam maut. Kematian bukan akhir hidup, tetapi dimulainya kehidupan lain yang berbeda. Lukas menulis secara rinci tentang peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus.

Selanjutnya...

Renungan Singkat

"Jarak paling jauh antara masalah dengan solusi hanyalah sejauh lutut dengan lantai. Orang yang berlutut pada Tuhan bisa berdiri untuk melakukan apapun !"

Tanpa Nama

Kristen | Pemda dan Kota Jakarta
Polisi Ditembak Orang Tak Dikenal di Dekat Gedung KPK PDF Cetak E-mail Dibaca: 1086
PostAuthorIcon Yohanes    PostDateIcon Kamis, 12 September 2013 07:57

Serangan beruntun yang dilancarkan orang tak dikenal kepada anggota polisi yang sedang berdinas di lapangan, mengundang keprihatinan dari berbagai kalangan. Yang baru saja terjadi adalah penembakan terhadap Bripka Sukardi anggota Satuan Polisi Air Provost Baharkam Mabes Polri, Selasa malam pukul 22.20 WIB, 10 September 2013, di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, tak jauh dari Gedung KPK.

Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) yang juga staf ahli DPR RI Mustofa B Nahrawardaya mengatakan terdapat beberapa pihak yang kemungkinan bertanggungjawab terhadap tewasnya Bripka Sukardi.

 

Ada kemungkinan beberapa pihak yang menjadi paling bertanggung jawab atas insiden penembakan tersebut. Pertama, ktanya, adalah sesama korps polisi. Alasannya pada tahun lalu terdapat 600 polisi dipecat dengan berbagai alasan.“Terdapat kemungkinan pelaku penembakan adalah mantan satu korps yang dipecat. Tindakan mereka memiliki alasan motif balas dendam karena sakit hati,” katanya sambil menguraikan, kelompok kedua adalah gerakan misterius yang belum diketahui segala hal tentang mereka.

Sedangkan, kelompok ketiga adalah oknum jaringan pengedar narkoba yang sedang melancarkan serangan balasan atas tertangkapnya dan tereksekusinya sejumlah rekan satu jaringan. Dan,  pihak terakhir atau keempat adalah kelompok teroris yang mengkambinghitamkan pelaksanaan Miss World di Indonesia yang baru saja memulai ajangnya pada pekan ini.

Sedangkan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso berpendapat, kejadian yang kesekian kalinya menimpa polisi, dikhawatirkan menjadi pemicu kecemasan masyarakat terhadap rasa aman. “Rasa aman masyarakat berada pada 'garis merah'. Saya khawatir ini menimbulkan kecemasan di Ibukota karena terjadi secara beruntun. Tentunya akan timbul pertanyaan dari masyarakat soal keamanan dan kenyamanan.”

Mengenai motif penembakan, dirinya mengaku belum tahu pasti. “Apakah ini rentetan dari penembakan polisi yang sebelumnya atau ini tindakan jahat sporadis, atau ada motif untuk berikan pesan kepada siapa saja, publik atau KPK, kita tidak tahu. Kita serahkan kepada aparat.”

Bila ternyata Polri membutuhkan bantuan untuk mengusut kasus penembakan yang terjadi akhir-akhir ini, KSAD Jenderal Budiman mengatakan pihaknya siap jika diminta bantuan pengamanan. “Kalau kita diminta bantuan kita siap, apa yang diinginkan bantuannya kita siap," ujar Budiman sambil menerangkan,”soft power kita siap, ingin hard power, tergantung keputusan hukum yang diminta bantuan pada kita.”

Kesediaan tentara untuk membantu polisi langsung ditanggapi positif. Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto mengtakan, kepolisian akan menggandeng TNI dalam memburu penembak Bripka Sukardi. Polisi juga minta personelnya tidak mengawal sendiri. “Kami akan melibatkan TNI dalam razia.

Paska insiden berdarah ini, polisi memang berniat menggelar razia besar-besaran. Dengan razia ini, aparat bisa mempersempit ruang gerak para penembak Sukardi dan menangkap mereka.

Saat naas menimpa, Bripka Sukardi tengah mengawal enam truk tronton bermuatan material elevator dari Tanjung Priok Jakarta Utara menuju Rasuna Said Tower, Jakarta Selatan. Ia berpakaian dinas mengendarai motor Honda Supra bernomor polisi B 6671 TXL. Pelaku penembakan diduga merampas senjata milik Bripka Sukardi, sebab senjatanya tidak ditemukan ketika ia tergeletak di jalan. “Diduga pengawalan dari arah Plumpang, Yos Sudarso, kemudian masuk ke Pramuka melewati jalan tertentu sampai kemudian di Rasuna Said,” ujar Rikwanto.

Sejauh ini, polisi masih mendalami apakah anggota Provost Polair Mabes Polri itu menyalahi prosedur kerja atau tidak. “Untuk SOP memang tidak boleh sendiri, harus berdua melakukan pengawalan. Semua polisi bekerja 24 jam dan dia harus siap melakukan pelayanan ke masyarakat,” tegasnya sembari menambahkan, Briptu Sukardi sendirian mengawal enam truk yang masing-masing bernomor polisi B9014 UPA, B 9428 OU, B 9491 HW, B 9048 PR, B 8664 BD, dan B 9567 HR.

Ke depan, Rikwanto meminta anggota kepolisian lebih waspada dalam bertugas, baik saat melayani masyarakat atau mengamankan markas komando. Meski demikian, dia menilai para anggota belum perlu pakai jaket antipeluru saat bertugas.

Hasil Otopsi

Informasi resmi dari internal Polri disampaikan Kadiv Humas Mabes Polri Inspektur Jenderal Ronny Franky Sompie. Ketika menggelar jumpa pers ia mengatakan, kepolisian menduga penembak Bripka Sukardi merupakan orang terlatih. Hal itu terlihat dari modus operandi pelaku dalam menyerang korban. “Bisa dilihat dari arah tembakan ke tubuh korban. Pelaku menembak ke arah posisi tubuh yang mematikan.”

Ronny menjelaskan, empat bekas tembakan yang seluruhnya terletak di bagian kiri tubuh korban (pundak kiri, lengan kiri, dada kiri, dan perut kiri), menunjukkan bahwa pelaku sudah terbiasa menggunakan senjata api. “Paling tidak pelaku sudah latihan meggunakan senjata itu.”

Keempat tembakan itu dilakukan dari arah depan. Namun, ia belum bisa menjelaskan jarak antara pelaku dengan korban saat tembakan dilontarkan. “Kami tidak bisa berasumsi. Tunggu hasil forensik dulu.”

Selain itu, Ronny juga membeberkan jika Bripka Sukardi memang telah salah prosedural. Namun walaupun melakukan kesalahan tetap yang bersangkutan dianggap melakukan tugasnya sebagai polisi karena telah melakukan pengawalan kepada masyarakat yang membutuhkan. “Memang telah salah prosedural, tapi seorang anggota polisi bisa melakukan tugas kepolisian secara umum, meskipun diluar kesatuannya.”

Ronny juga menyebutkan sampai saat ini Polri masih melakukan pemeriksaan tentang kesalahan prosedural yang terjadi. Apakah si polisi tersebut melakukan pengawalan atas seizin pimpinannya, atau atas inisiatif pribadi. “Nah itu yang masih kita kroscek kesalahannya, mengapa ia hanya melakukan pengawalan seorang diri.”

Tapi dia memastikan anggota provost walaupun melaksanakan tugas di luar kesatuannya, tetap dibolehkan selama tugas tersebut adalah tugas polisi secara umum.

Ungkapan senada dikemukkan Wakapolri Komjen Oegroseno, Bripka Sukardi yang melakukan pengawalan terhdap enam truk kontainer  itu memang menyalahi prosedur, karena korban merupakan anggota Dit Polair Mabes Polri. seharusnya yang melakukan pengawalan terhadap truk-truk tersebut, bukanlah provost, melainkan polisi lalu lintas. “Seharusnya, polisi lalu lintas yang mengawal,” ujarnya.

Selain itu, Oegroseno juga menjelaskan bahwa, Bripka Sukardi, saat kejadian tidak dalam kondisi berdinas. “Korban sedang bertugas di luar dinas,” tandasnya.

Dari tempat terpisah Kepala Badan Pemeliharaan dan Keamanan (Kabarhakam) Mabes Polri Komisaris Jenderal Polisi Badrodin Haiti mengatakan pelaku menembak Bripka Sukardi menggunakan peluru kaliber 4,5 milimeter jenis FN. “Ketiga selongsong peluru sudah ada di Tim Labfor untuk diperiksa. Senjata yang dipakai pelaku ilegal dan akan kami telusuri,” kata dia.

Peluru ini, ujar Badrodin, berbeda dengan peluru yang digunakan dalam tiga aksi penembakan polisi di Tangerang sebelumnya. Pada aksi-aksi terdahulu, peluru yang digunakan sama, kaliber 5 milimeter.

Untuk membantu penyelidikan pihak KPK menyerahkan salah satu CCTV yng berada di depan gedung yang memantau aktivitas di lokasi penembakan. Menurut Juru Bicara Johan KPK  Johan Budi, “kami menyerahkan menyerahkan rekaman CCTV tersebut kepada kepolisian jika diperlukan dalam proses olah tempat kejadian perkara. Intinya kami akan membantu Kepolisian untuk mengungkapkan pelaku penembakan,” ujarnya sembari menyatakan keprihatinan sekaligus bela sungkawa untuk korban dan Polri sebagai institusi.

Rekaman CCTV

Mengutif hasil rekaman kamera CCTV yang dipasang di atas gedung KPK menunjukkan satu sepeda motor dan dimut media memperlihatkan, ada sepeda motor datang dari belakang dan memepet sepeda motor Honda Supra X 125 bernomor polisi B-6671-TXL yang dikendarai Anggota Provost Polair Markas Besar Kepolisian Bripka Sukardi, dari sebelah kiri Sukardi.

Tiba-tiba, terlihat Sukardi dan sepeda motornya jatuh dan tak bergerak. Sepeda motor yang memepet itu, berhenti sekitar satu meter di depan Sukardi. Dua orang yang berada di sepeda motor tak lekas turun, dan hanya melihat Sukardi.

Sedetik kemudian, dari penampakan sepeda motor yang telah berhenti di sisi jalan sebelum Sukardi datang, turun satu orang yang kemudian berjalan kaki ke arah Sukardi. Di depan Sukardi, orang itu terlihat sedikit membungkuk ke arah Sukardi, lalu kembali menuju sepeda motornya yang sedang ditunggui seorang pengendara. Dua sepeda motor, yang memepet dan yang telah berhenti sebelumnya, sama-sama melaju ke arah Mampang Prapatan.

Untuk memberikan rasa aman bagi warga masyarakat, anggota Komisi III DPR, Sarifudin Sudding mendesak kepolisian untuk memprioritaskan pengusutan aksi penembakan yang menimpa Bripka Sukardi. “Bukan semata karena menyangkut anggotanya sendiri tetapi sekaligus untuk memberi rasa aman bagi masyarakat.”

Polisi harus membuat prioritas pengusutan terhadap kasus penembakan tersebut. Kita tidak boleh kalah dengan aksi-aksi terorisme yang mengarah kepada aparat keamanan maupun masyarakat,” tegas Sudding.

Meskipun begitu, Ketua Fraksi Hanura di DPR ini menyatakan prihatin dan menyampaikan duka cita yang mendalam atas tewasnya prajurit Provost Mabes Polri tersebut.

Lebih jauh Sudding juga menegaskan, untuk memberikan rasa aman kepada warga, polisi juga harus membuat langkah-langkah khusus. Langkah tersebut perlu segera dilakukan, agar aksi-aksi penembakan yang terjadi beberapa waktu terakhir tidak terulang kembali, serta membuat rakyat trauma, sehingga mengurangi kepercayaan mereka pada aparat kepolisian.

“Jangan sampai aksi-aksi penembakan seperti ini membuat masyarakat menjadi kurang percaya terhadap polisi. Oleh karena itu, polisi harus membuat langkah-langkah khusus secepatnya. Ini untuk memberi rasa aman warga masyarakat. Jangan sampai kejadian penembakan yang akhir-akhir ini beberapa kali terjadi membuat masyarakat takut untuk pergi sendirian. Ini harus menjadi prioritas utama Polri,” beber Sudding.

Sudding juga mengurai langkah khusus yang dimaksud adalah dengan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pengamanan para anggota saat bertugas di lapangan, terutama di daerah-daerah rawan, serta memperbaharui prosedur-prosedur pengamanan terhadap anggota, terutama pada saat bertugas melayani anggota masyarakat.

Senada dengan Sudding, Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW)  Neta S Pane mengatakan, “kami menyatakan turut prihatin atas terjadinya penembakan terhadap polisi yang terjadi di depan kantor KPK.”

Namun begitu, kata Neta, IPW menilai kasus penembakan terhadap polisi yang terjadi bertubi-tubi di Jakarta akan membuat warga Ibu Kota menjadi sangat takut dan khawatir. “Bagaimana Polisi bisa melindungi masyarakat, jika melindungi dirinya sendiri tidak bisa.”

Neta menuturkan dari kejadian ini ironisnya lagi kasus-kasus penembakan terhadap polisi tak kunjung terungkap, sementara penembakan, pengeroyokan, dan penusukan terhadap polisi masih saja terjadi.

“IPW berharap Polri, khususnya Polda Metro Jaya segera mengungkap kasus ini agar trend penembakan ini berhenti. Sebab penembakan misterius menjadi trend baru dalam kejahatan di Indonesia, beberapa bulan belakangan ini,” terangnya.

Lebih jauh Neta berpandangan bahwa selama 3 bulan terakhir terjadi 22 kasus penembakan misterius dan hanya satu pelakunya yang tertangkap. Dari 22 kasus penembakan itu 5 di antaranya korbannya adalah polisi. “Modus penembakan tersebut sangat variatif, sehingga sulit menyimpulkan bahwa aksi penembakan ini dilakukan para teroris.”

Namun sekali lagi, lanjut Neta, sayangnya dalam kasus penembakan ini, terutama terhadap polisi, jajaran polisi hanya terpaku pada opini bahwa pelakunya adalah teroris. Akibatnya polisi terperangkap pada opininya sendiri hingga kesulitan mengungkap kasus-kasus penembakan terhadap personilnya ini. Sementara jika kasus penembakan tersebut tak kunjung terungkap oleh polisi dikhawatirkan kasus-kasus penembakan akan terus terjadi.

“IPW menduga aksi penembakan ini sepertinya ada kaitannya dengan maraknya aksi pemberantasan preman belakangan ini. Sepertinya ada aksi balas dendam dari para pelaku kriminal jalanan terhadap polisi,” tegasnya.

 

 

Add comment

Komentar tidak mewakili pandangan umum Majelis Umat Kristen Indonesia. Dilarang untuk berkomentar yang mengandung hujatan, fitnah, SARA dan lainnya yang merusak kedamaian. MUKI berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dianggap tidak layak


Security code
Refresh