Iklan by MUKI

Renungan

KEMENANGAN YANG ABADI

KEMENANGAN YANG ABADI, Lukas 24:1-9

Shalom saudara(i). Minggu prapaskah mengingatkan bersiap sambut hari kemenangan. Ada enam lilin dinyalakan serentak dan dimatikan satu tiap minggu sampai tiba minggu sebelum Jumat Agung. Paskah merupakan lanjutan peristiwa dari minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Peristiwa ini saling terkait satu dengan lainnya. Paulus menulis: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (I Korintus 15:3-4). Paskah peristiwa terbesar dalam sejarah dan menyakinkan bahwa Kristus telah disalibkan dan telah mati dan telah dikuburkan dan telah bangkit pada hari ketiga. Bangkit artinya memenangkan kuasa alam maut. Kematian bukan akhir hidup, tetapi dimulainya kehidupan lain yang berbeda. Lukas menulis secara rinci tentang peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus.

Selanjutnya...

Renungan Singkat

"Cinta bisa buat orang bahagia; uang bisa buat dunia berputar; tapi sahabat... ah, itu yang buat hidup lebih hidup."

Tanpa Nama

Kristen | Kebangsaan
NASIONALISME, BENDERA DAN AKU PDF Cetak E-mail Dibaca: 116
PostAuthorIcon Mawardin Zega    PostDateIcon Senin, 21 Agustus 2017 11:53

Jakarta, Mukinews.com.

Rasa nasionalisme terusik dalam dua hari ini, gelora kebangsaan membahana di dalam dada dan sebagian tercurah dalam goresan kekesalan di medsos.

Malaisia, negeri serumpun bikin ulah memasang bendera Indonesia terbalik di buku panduan pesta olahraga Asean. Terlepas dari unsur ketidaksengajaan peristiwa ini merupakan tindakan pandir panitia penyelenggara termasuk di dalamnya pemerintah Malaisia.

Indonesia bukan negara yang cinta perang, walau sejarah mencatat kalau sudah menyentuh harga diri, martabat, kehormatan dan kedaulatan negara, Indonesia menjadi negara yang tak akan pernah mundur menuntut haknya.

Peristiwa bendera terbalik dapat saja menyulut rasa nasionalisme yang menggelora seperti dulu masa Presiden Sukarno ketika kita harus berteriak "ganjang malaisia" dan derap sepatu berlaras berbaris menuntut balas. Indonesia bersyukur, Jokowi sang Presiden bijak dalam mengendalikan emosi nasionalisme yang sempat membahana. Presiden memang marah, kesal, mungkin saja sakit hati, tetapi sebagai negarawan ia nyatakan isi hatinya itu dengan keramahan yang menyejukkan hati rakyatnya. Tak ada benci, tak ada dendam. Presiden meminta agar hal ini jangan dibesar-besarkan.

Bendera Merah Putih bukan hanya sekedar dua lembar kain berwarna yang dijahit dan digerek ke atas tiang bambu dan kemudian ditinggalkan berkibar sendirian. Bukan itu, bukan seperti itu.

Bendera Merah Putih adalah simbol dari jiwa dan raga seluruh rakyat Indonesia dimana hati dan perasaan tiap-tiap rakyat ikut berkibar bersama sang dwi warna entah itu di istana negara ataupun di tengah perkampungan padat penduduk.

Bendera Merah Putih adalah simbol perjuangan dan keberanian. Ia adalah semangat yang mengubah rasa dari sesuatu yang hampa menjadi sorak patriotisme "merdeka atau mati" dan tetesan darah memang tertumpah di bumi pertiwi untuk menjaga dwi warna, menjaga martabat dan harga diri bangsa Indonesia.

Karena itu jangan pernah bermain-main dengan sang dwi warna, apalagi mempermainkannya dengan sengaja. Karena ketika rakyat Indonesia sudah bicara dan Presiden mengamini kemarahan rakyat maka "aku dan kau" dapat memastikan sejarah masa lalu terulang kembali.

Add comment

Komentar tidak mewakili pandangan umum Majelis Umat Kristen Indonesia. Dilarang untuk berkomentar yang mengandung hujatan, fitnah, SARA dan lainnya yang merusak kedamaian. MUKI berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dianggap tidak layak


Security code
Refresh