Iklan by MUKI

Renungan

KEMENANGAN YANG ABADI

KEMENANGAN YANG ABADI, Lukas 24:1-9

Shalom saudara(i). Minggu prapaskah mengingatkan bersiap sambut hari kemenangan. Ada enam lilin dinyalakan serentak dan dimatikan satu tiap minggu sampai tiba minggu sebelum Jumat Agung. Paskah merupakan lanjutan peristiwa dari minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Peristiwa ini saling terkait satu dengan lainnya. Paulus menulis: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (I Korintus 15:3-4). Paskah peristiwa terbesar dalam sejarah dan menyakinkan bahwa Kristus telah disalibkan dan telah mati dan telah dikuburkan dan telah bangkit pada hari ketiga. Bangkit artinya memenangkan kuasa alam maut. Kematian bukan akhir hidup, tetapi dimulainya kehidupan lain yang berbeda. Lukas menulis secara rinci tentang peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus.

Selanjutnya...

Renungan Singkat

"Jarak paling jauh antara masalah dengan solusi hanyalah sejauh lutut dengan lantai. Orang yang berlutut pada Tuhan bisa berdiri untuk melakukan apapun !"

Tanpa Nama

Kristen | Opini
Dunia Mengakui Kemampuan Polri, Mengapa Kita Tidak? PDF Cetak E-mail Dibaca: 1680
PostAuthorIcon Upa Labuhari    PostDateIcon Senin, 15 Oktober 2012 12:31

Dunia Mengakui Kemampuan Polri, Mengapa Kita Tidak?Sampai saat ini dunia tetap mengakui kemampuan Polri dalam  bekerja memberantas semua musuh masyarakat, termasuk penanganan kejahatan korupsi. Pengakuan itu  tercetus  sepuluh tahun lalu ketika Polri berhasil mengungkap kasus peledakan Bom Bali I yang terjadi 12 Oktober dengan membawa korban 327 orang meninggal. Sesudah pengakuan itu dilanjutkan dengan pengakuan lainnya dalam pemberantasan  narkoba, illegal logging dan illegal fishing.

Pengakuan demi pengakuan yang membanggakan itu, ternyata sampai sekarang  tidak terlalu direspon oleh masyarakat di negeri ini. Pengakuan mancanegara itu seolah-olah ditampik keberadaan oleh masyarakat dengan munculnya kasus  5 Oktober lalu dimana sekelompok penyidik Polda Bengkulu dan  Polda Metro Jaya berupaya menangkap Kompol Drs Novel Baswedan, penyidik KPK di kantornya, jalan Rasuna Said Jakarta Selatan.  Belum lagi dengan bergulirnya kasus korupsi pengadaan peralatan simulator SIM yang sudah melibatkan dua orang jenderal polisi, menambah panjang ketidaksimpatikan masyarakat terhadap Polri.

Menjadi pertanyaan mengapa masyarakat begitu tidak percaya lagi  kepada Polri yang kepiawaiannya diakui polisi dunia. Apakah pengungkapan kasus bom Bali I yang terjadi 10 tahun lalu, menjadi tidak ada gunanya lagi seiring dengan adanya pertikaian politik antara KPK dan Polri. Atau apakah hasil operasi Illegal Logging di Papua, Sumatera dan Kalimantan yang menjadi momentum Polri memberantas pembalakan liar di tanah air, tidak ada lagi faedahnya bagi masyarakat luas ? Demikian juga dengan hasil operasi illegal fishing di pantai Maluku   yang menghasilkan pemasukan devisa negara  ratusan miliar rupiah sudah tidak perlu dikenang lagi sebagai prestasi luar biasa Polri.

Kalau demikian adanya, sungguh luar biasa masyarakat kita sekarang ini yang tidak mau mengenang apa yang pernah dilakukan oleh jajaran Polri selama sepuluh tahun terakhir ini. Padahal kata orang bijak, bangsa yang besar sangat menghargai apa yang telah diperbuat oleh pendahulunya.   Pengakuan polisi dunia atas kemampuan Polri mengatasi masalah kejahatan di Indonesia, seharusnya menjadi catatan  kita semuanya dan mensyukurinya bahwa Polri masih diperlukan keberadaannya di tengah  masyarakat yang rawan tindak kejahatan.

Peristiwa 5 Oktober di kantor KPK bukan keinginan instituasi Polri yang berpatokan sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat. Tapi kejadian itu merupakan perbuatan sepihak dari oknum Polri yang ingin merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Kepada mereka inilah yang perlu diberi pelajaran yang setimpal dengan mengajukan mereka ke depan sidang pengadilan. Bukan Instituasi Polri yang harus diberi hukum moral dengan mengecilkan arti prestasi yang pernah dicapai selama ini.

Lalu menjadi pertanyaan lainnya mengapa Polisi dunia memberi  penghargaan luar biasa kepada Polri. Apa prestasinya sehingga Polisi dunia harus mengakui keberadaan dan kemampuan Polri dalam mengatasi berbagai tindak kejahatan di Indonesia ? Prestasi yang membanggakan itu sebenarnya tidak pernah diklaim oleh jajaran Polri sebagai suatu prestasi luar biasa. Prestasi itu dianggap sebagai pekerjaan rutin Polri saja karena itulah yang seharusnya dikerjakan sebagaimana yang tergantung dalam poin ketiga Tribrata yang menyebutkan, Polri senantiasa melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dengan keiklasan untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban.

Dalam pelaksanaan poin ketiga Tribrata inilah  muncul pengungkapan kasus peledakan bom Bali I yang oleh polisi dunia dianggap sebagai prestasi luar biasa yang belum pernah terjadi di belahan bumi ini. Bagaimana jalan ceritanya peristiwa sepuluh tahun itu? Inilah yang perlu dimaknai sehingga jasa-jasa Polri dalam memberantas pelaku kejahatan di tanah air mendapat penghargaan juga dari dalam negeri. Sebab adalah aneh jika polisi dunia mengakui keberadaan dan kemampuan Polri. Sementara masyarakat dalam negeri memungkirinya.

Mengungkap kasus bom Bali I dengan menangkap semua pelakunya dalam kurung waktu kurang lebih satu bulan, bukanlah suatu pekerjaan mudah, semudah membalik tangan. Apalagi harus menggunakan sistem scientific crime investigation, suatu tehnik penyelidikan yang berdasarkan multi ilmu pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan di depan hukum. Bukan berdasarkan hasil perkiraan dukun dengan menggunakan blackmagic. Semua pengungkapan ini  memerlukan ketekunan, ketelitian, dan pengalaman yang tidak semua orang bisa memilikinya.

Di mulai dari pencari barang bukti di lokasi peledakan pertama di Jalan Raya Puputan, Renon. Dari penemuan barang bukti di lokasi ini dipastikan, bahwa pelaku dapat meledakkan bom di tempat ini dengan menggunakan  handphone dengan nomor 08179730360. Sedangkan peristiwa peledakan kedua di gedung  Paddy’s dan peledakan ketiga di gedung Sari Club didetonasi dengan menggunakan  handphone nomor sama dengan peristiwa pertama. Dalam peristiwa peledakan di kedua tempat ini juga diduga menggunakan bom bunuh diri dimana mayat korban pelaku hancur, tinggal kepala.

Setelah itu ditemukan sebuah lempengan plat  nomor keur (kir)  mobil yang masih utuh di tengah reruntuhan bangunan. Nomor lempengan itu tertera DPR 15463. Nomor lempengan  ini kemudian  dibawa ke kantor DLLAJR Bali untuk diketahui keberadaannya. Dari kantor DLLAJR ini didapat data bahwa kendaraan yang memakai nomor lempengan DPR 15463 adalah Mitsubishi  Stasion Wagon L300 dengan  mesin 1400 CC buatan tahun l983 warna putih dengan nomor chasis KA 011230. Temuan data ini memperbaharui data yang didapat sebelumnya yang menyebutkan, nomor kendaraan yang dicurigai adalah  KA 611286. Ini semuanya dapat terjadi karena petugas forensik sebelumnya membaca angka 0 dengan sebutan 6, angka 3 terbaca 8.

Oleh  Kombes Pol Drs Carlo Tewu, tim penyidik Polda Metro Jaya yang diperbantukan pada tim investigasi Bom Bali I di bawah kepemimpinan Irjen Pol Drs Made Mangku Pastika, data temuan itu dibawa ke Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan Raya untuk dapat dicocokkan dengan data yang ada di  Dirlantas Polda Bali. Dari pencocokan data itu diketahui bahwa kendaraan yang dicurigai sebagai pembawa bom itu sudah beberapa kali berpindah kepemilikan dari Jakarta-Denpasar Bali, sampai ke Tuban Jawa Timur. Mobil ini pertama kali tercatat di Polda Metro Jaya pada tgl 16 Oktober l987, dengan nomor B 7643 FG dengan pemilik bernama Dewantoro berlamat di Jelambar, Jakarta Barat.

Sesudah itu mobil ini dijual dan  dibawa ke Bali pada 16 Desember l987  oleh pembelinya bernama I Made Seniarta. Nomor kendaraanpun berubah menjadi  nomor Polisi DK 8167 DG. Dan tidak lama kemudian mobil ini dijual kepada Anak Agung Ketut Adi yang beralamat di Jalan Pangeran Kawe nomor 92 Denpasar dengan diperbaharui nomornya menjadi DK 1324 BS. Sesudah itu mobil tersebut dijual lagi seharga Rp 6,4 juga kepada PT Wisata Nusa Damai. Tidak lama kemudian mobil tersebut dijual lagi kepada Anak Agung Ketut Adi yang kemudian dijual lagi kepada Gede Wiraatmadja.

Oleh Gede Wiraatmadja mobil ini jugal lagi kepada I Made Widana dan kemudian dijual lagi kepada I Dewa Gede Sujendra SH Tanggal 1 Oktober 2001 mobil ini dijual lagi kepada Aumah Yudi yang bertempat tinggal di Tuban Jawa Timur dengan harga Rp 18,6 juta. Oleh Aumah Yudi setelah kendaraan ini dibeli, warnanya yang abu-abu  diubah menjadi putih. Bersamaan itu juga, diubah nomornya menjadi DK 1822CW. Dan pada Juni 2002, kendaraan ini dijual lagi kepada Aswar Anas Prianto yang berdomisili di Palang Tuban, Jawa Timur dengan harga Rp 25 juta. September 2002 kendaraan ini dibeli oleh Amrozi alias Khairul Anam yang bertempat tinggal di Desa Sugihan, Kecamatan Solokuro, Lamongan, Jawa Timur dengan harga Rp 32 juta.

Dari keseluruhan data yang ditemukan itu, Carlo Tewu juga memperjelas perkiraannya bahwa pemilik mobil tersebut bukan bertempat tinggal di Desa Sugihan, tapi di Desa Tenggulun masih satu kecamatan Solokuro Lamongan Jawa Timur. Penangkapan terhadap Amrozi kemudian direncanakan di Desa Tenggulun yang dipimpin langsung oleh Brigjen Pol Drs Gories Mere. Usaha penyergapan untuk menangkap Amrozi tidak semudah dibayangkan walaupun orangnya diketahui jelas tempat tinggalnya. Setiap kali anggota Polsek Tenggulung yang punya pertemanan dengan Amrozi begitu kentalnya akan melaksanakan penangkapan itu, selalu gagal dilaksanakan karena Amrozi menginap di sebuah mushola tidak jauh dari rumahnya.

Setelah empat hari lamanya,  petugas mengintip keberadaan Amrozi, ia diketahui  masuk ke dalam rumahnya sekitar pukul 04.30 WIB. Pada waktu itu juga, 3 Nopember 2002, empat minggu setelah terjadi peledakan di Bali,  penggrebekan dilaksanakan atas sepengetahuan para perangkat desa maupun keluarganya sehingga ia dapat dibawa ke Polda Jawa Timur di Surabaya. Sampai di Surabaya,  pemeriksaan terhadap Amrozi langsung dilakukan dibawa pengawasan Brigjen Pol Drs Gories Mere.

Dari hasil pemeriksaan selama lebih dari 14 jam, petugas tidak dapat membuktikan bahwa pria yang mengaku bernama M Rozi terlibat dalam kasus peledakan bom Bali pada tanggal 12 Oktober 2002. Sebab pada waktu peledakan itu terjadi, Rozi diketahui ada di Lamongan bersama keluarganya sambil menonton pertandingan sepakbola. Semua tetangga pria yang punya keahlian dalam perbaikan sepeda motor  yang didengar keterangannya membenarkan bahwa M Rozi tidak ada di Bali pada tanggal 12 Oktober, hari peledakan bom Bali I. M Rozi yang juga dikenal sebagai pemuka agama pada waktu itu ada bersama-sama warga Desa Tenggulun menonton pertandingan sepakbola dari sebuah stasion TV swasta Jakarta.

Begitu kuatnya alibi M Rozi bahwa ia tidak terlibat dalam kasus peledakan bom di Bali walaupun tim investigasi Gories telah menemukan beberapa barang bukti berupa surat pembelian bahan peledak di Surabaya, membuat Gories Mere penasaran bagaimana caranya bisa memastikan keberadaan M Rozi sebagai pelaku dalam peledakan bom ini. Padahal waktu penahanan terhadap M Rozi terus berjalan, tinggal sepuluh  jam lagi penyidik bisa menahan Amrozi dalam dugaan peledakan bom Bali I. Lebih dari itu M Rozi harus dapat dibebaskan dan tidak bisa lagi ditangkap dalam kasus yang sama walaupun  dikemudian hari nanti ditemukan bukti yang mengarah kepada dirinya sebagai pelaku.

Lewat   AKBP Benny Mamoto, perwira menengah Direktorat I Mabes Polri yang dikenal sebagai “kamus berjalan” Polri dalam bidang pendataan pelaku teroris di dunia, dapat dipastikan  M Rozi  sebagai teroris internasional yang berkantor pusat di Malaysia. Anak ke empat dari tujuh bersaudara itu bernama pasti Amrozi, ia  mempunyai kakak bernama Ali Gufron alias Muklas alias Huda bin Abdul Haq dan  adik paling kecil  bernama Ali Imron. Kepastian ini membuat  Gories berkenyakinan, pihaknya tidak salah untuk menahan Amrozy sebagai tersangka walaupun bukti keterlibatannya di bom Bali I belum ditemukan. Baru sebatas penjelasan dari Benny Mamoto.

Untuk itu Gories kembali bertanya kepada Benny agar   menyakinkan dirinya tidak salah menahan. “Jadi Amrozy betul sebagai jaringan teroris internasional, kita bisa tahan dia,” tanya Gories pada ahli teroris yang beberapa tahun kemudian tercatat sebagai doktor pertama alummi Universitas Indonesia dalam bidang teroris.

“Silahkan ditahan, dia teroris,” kata Benny. Yang kemudian dijawab oleh Gories Mere,” kalau demikian, besok pagi Anda terbang ke Surabaya, periksa dia sampai didapat bukti keterlibatannya. “Siap jenderal,” kata Benny mengakhiri pembicaraannya yang tidak disangka-sangka akan berlangsung.

Keesokan harinya, Benny sudah ada di Polda Jatim untuk memeriksa keberadaan Amrozy yang sudah dinyatakan sebagai tersangka pertama pelaku peledakan bom Bali. Dalam pemeriksaan awal, Benny tidak langsung menyentuh peristiwa bom Bali pada Amrozy. Tapi pemeriksaan itu diawali dengan dialog antara Amrozy dengan Benny tentang keberadaannya selama berada di Kualalumpur Malaysia. Benny memperlihatkan kepada Amrozy tentang tempat tinggalnya selama di Malaysia yang tidak jauh dari tempat tinggal  Abu Bakar Baasyir, tokoh agama di Malaysia  yang kemudian lari  ke Indonesia karena dikejar-kejar oleh Polisi Malaysia. Juga diperlihatkan lokasi tempat tinggal dimana kakaknya Muklas yang menjabat sebagai ketua Mantiqi Ula/satu untuk wilayah Singapura dan Malaysia bersama adiknya Ali Imron. Bahkan tempat ibadah mereka juga diperlihatkan dengan jelas sehingga Amrozy tidak bisa mengelak sebagai anggota jaringan teroris internasional.

Foto-foto lokasi tempat tinggal Amrozy yang diperlihatkan itu membuat, dia menyerah dan menyatakan diri sebagai ikut terlibat dalam jaringan teroris yang diburu di Malaysia. Iapun mengakui keterlibatannya dalam kasus bom Bali I dimana kakaknya  Muklas dan adiknyaAli Imron  ikut terlibat  dalam peristiwa ini. Bahkan ia juga menjelaskan, keterlibatan kawan-kawannya yang lain dalam kasus ini seperti Imam Samudra dan Dr Azahari, Noordin M Toop, Dulmatin,  dan kelompok perampok toko emas di kawasan Serang, Jawa Barat. Semua nama pelaku disebut satu persatu dengan mudahnya. Bahkan nama korban bom bunuh diri dijelaskannya secara rinci sehingga penyidik tidak sulit mendeteksi satu persatu dari pelaku walaupun alamat dari para pelaku itu tidak diketahui secara pasti.

Dari penangkapan Amrozy ini tim investigasi dapat menyita puluhan pucuk senjata api otomatis lengkap dengan pelurunya yang disembunyikan dalam tanah di kawasan pengunungan Dadapan di Jawa Timur. Senjata-senjata ini menunjukkan betapa bersiapnya kelompok teroris ini untuk merongrong kewibawaan pemerintah. Dan untuk itu menambah semangat petugas Kepolisian Daerah (Polda) lainnya memburu anggota  teroris Al Qaeda yang sudah disebutkan namanya oleh Amrozy. Pengejaran dilakukan dengan menggunakan alat bantuan dari Kepolisian Australia yang bisa melacak keberadaan pelaku lewat sinyal handphone yang digunakan.

Penangkapan Imam Samudra dan 15 orang kelompoknya di Banten Jawa Barat di atas bus PO Kurnia ketika akan menyebrang ke Sumatera dari Merak merupakan suatu bukti bagaimana mereka bisa ditangkap dengan menggunakan peralatan canggih dari Kepolisian Australia. Demikian juga dengan penangkapan Muklas alias Ali Gufron  di daerah Klaten Jawa Tengah dan Ali Imron serta Mubarok di Delta Mahakam Kutai Kartanegara, sekitar 86 kilometer dari kota Balikpapan. Setelah semua tersangka pelaku peledakan bom Bali dapat ditangkap di luar kota Bali, menjadi persoalan bagi  tim investigasi adalah kekerasan pelaku untuk tidak mau berbicara tentang keberadaan mereka jika diperiksa oleh tim penyidik yang dianggap kafir.

Untuk itulah ketika pemeriksaan awal dilaksanakan terhadap Imam Samudra di kawasan Cilegon Banten, pemeriksanya adalah Kapolri, Jenderal Polisi Drs Da’I Bachtiar. Pemeriksaan ini tercatat sebagai baru pertama kali dalam sejarah Polri pada waktu itu bahwa tersangka diperiksa langsung oleh Kapolri. Dan  setelah pemeriksaan itu dapat dilaksanakan karena Da’I Bachtiar bisa berbahasa Sunda langsung dengan Imam Samudra, pemeriksaan lanjutan diberikan kepada penyidik yang mempunyai kemampuan dan pengetahuan tentang jaringan terroris Al Qaeda.

Mereka-mereka itu tidak seberapa banyaknya, diantaranya terdapat nama Kombes Pol Drs Tito Karnavian yang saat ini menjabat sebagai Kapolda Papua dengan pangkat Irjen Polisi. Doktor di bidang teroris dari Universitas Nanyang Singapura itu diketahui sangat ahli dalam bidang pengungkapan jaringan teroris Al Qaeda sehingga tidak sulit bagi penyidik untuk memeriksa satu persatu para tersangka yang awalnya tidak mau berbicara karena penyidik dianggap sebagai kaum kafir.

Pengungkapan kasus peledakan bom  terbesar di Asia tenggara ini mendapat pujian dari pihak kepolisian dunia karena selain diungkap lewat scientific crime investigation yang merupakan motode yang harus dilakukan oleh polisi di seluruh dunia dalam mengungkap peristiwa peledakan bom, pengungkapan ini juga menggunakan teknik-teknik pemeriksaan terhadap tersangka lewat jalur pendekatan emosional.

Selain Presiden RI Megawati Soekarnoputri memberi penghargaan khusus kepada semua tim investigasi kasus peledakan ini dengan menaikkan pangkatnya setingkat lebih tinggi,   Presiden Amerika Serikatpun memberikan pujian atas keberhasilan ini. Komandan tim investigasi Bom Bali I, Irjen Pol Drs Made Mangku Pastika mendapat penghargaan juga secara  khusus dari Majala TIME sebuah majalah ternama di Amerika serikat dengan sebutan sebagai Asian Newsmaker Of The Year 2002. Ia merupakan satu-satu tokoh Polisi di tingkat Asia yang pernah diprofilkan keberhasilannya di majalah bergengsi ini. Bahkan majalah Bussnes Week sebuah majalah ekonomi terbesar di dunia memberi gelar kepada Made Mangku sebagai One Of Asia Star 2003.  Salut kepada Polri dengan prestasinya yang luar biasa ini.

Penulis, Ketua Departemen Wartawan Kepolisian PWI Pusat dan pengamat masalah Kepolisian

Comments  

 
0 # dhanuhp 2012-12-06 05:09
Terima kasih atas atikelnya, tak terasa air mata berlinang tatkala menyadari bahwa begitu besar jasa POLRI untuk negeri ini. Terima kasih Yang sebasar-besarnya atas penulis artikel ini.
Reply | Reply with quote | Quote