Iklan by MUKI

Renungan

KEMENANGAN YANG ABADI

KEMENANGAN YANG ABADI, Lukas 24:1-9

Shalom saudara(i). Minggu prapaskah mengingatkan bersiap sambut hari kemenangan. Ada enam lilin dinyalakan serentak dan dimatikan satu tiap minggu sampai tiba minggu sebelum Jumat Agung. Paskah merupakan lanjutan peristiwa dari minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Peristiwa ini saling terkait satu dengan lainnya. Paulus menulis: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (I Korintus 15:3-4). Paskah peristiwa terbesar dalam sejarah dan menyakinkan bahwa Kristus telah disalibkan dan telah mati dan telah dikuburkan dan telah bangkit pada hari ketiga. Bangkit artinya memenangkan kuasa alam maut. Kematian bukan akhir hidup, tetapi dimulainya kehidupan lain yang berbeda. Lukas menulis secara rinci tentang peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus.

Selanjutnya...

Renungan Singkat

"Jarak paling jauh antara masalah dengan solusi hanyalah sejauh lutut dengan lantai. Orang yang berlutut pada Tuhan bisa berdiri untuk melakukan apapun !"

Tanpa Nama

Pancasila | Opini
Pancasila Pemersatu Bangsa Dan Permasalahan Reformasi PDF Cetak E-mail Dibaca: 1168
PostAuthorIcon Paulus Eddy Karnot’ D    PostDateIcon Sabtu, 02 Juni 2012 09:27

Pancasila Pemersatu Bangsa Dan Permasalahan ReformasiBelakangan ini teramat sering saya merasa pikun melihat masyarakat Negara yang carut marut hampir melupakan : Integritas Sistem Kenegaraan Pancasila. Dimasa pemerintahan yang lalu, Pancasila adalah dasar pembangunan wawasan Nusantara dan menajadi ideologi yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh warga Negara Indonesia. Hal ini telah menjadi perekat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara serta dilaksanakan dalam pola kehidupan sehari-hari. Di Sekolah Dasar maupun Perguruan Tinggi serta dalam kelompok kehidupan masyarakat, Organisasi, Partai dan lain- lainnya, semuanya memahami dan mengerti apa yang dimaksud dengan Pancasila dan dampaknya pada pola kehidupan masyarakat cukup menyejukkan. Toleransi lebih hidup, provokasi antar  agama sangat jarang, bentrok antar suku, kampong sangat minim, tawuran antar sekolah, mahasiswa sangat kecil dan bentrok antar masyarakat dengan polisi atau TNI hampir tidak ada.

Lalu,bedakan dengan apa yang telah berlangsung sekarang, semuanya bisa saja terjadi bagai berada di panggung sandiwara, karena masyarakat tidak punya rasa takut lagi dan aparat keamanan tidak berani bertindak, sehingga proses hukumnya tidak berjalan karenanya banyak kantor Polisi dirusak bahkan ada yang dibakar, Kantor Pengadilan dirusak dan dipagar MPR/DPR di Senayan dirobohkan, jalan tol di tutup dan lain sebagainya. Demikian pula halnya dengan proses penertiban, malah ada pihak yang 100 persen swasta sangat getol melakukan swiping dan penertiban usaha, bahkan merambah kedalam kegiatan-kegiatan yang bersifat keagamaan dan masih banyak lagi yang lainnya. Yah, demikianlah adanya apa mau dikata semuanya sudah terjadi dizaman reformasi ini , tapi…..karena keamanan membiarkannya, karena juga masyarakat sudah kebablasan dalam kancah reformasinya dan pemimpinnya pun asik-asik menonton bagaikan berada di gedung Miscicih didaerah Senen Jakarta Pusat.

Kemudian, lihatlah nun jauh dikawasan Senayan  sana, di gedung Parlemen yang mempesona itu, lahir ragam peristiwa yang sungguh menggugah nurani untuk ditelusuri. Dimulai dari Sekretariat Jendral – lalu kedalam Komisi-Komisi dan terakhir kedalam Badan Anggaran yang terkenal dengan sebutan BANGGAR yang juga sempat di colok-colok oleh Wa Ode yang membuka adanya permintaan komisi oleh Banggar pada setiap pengajuan anggaran daerah, tapi sayang Wa Ode telah masuk bui, namun demikian masih di anugrahi Whistle Blower Aword 2012 oleh Aliansi Masyarakat Jakarta pada awal Maret 2012. Di Sekretariat Jendral, terjadi pembesaran anggaran ruang BANGGAR yang sangat fantastis. Mengenai hal ini, Ketua Marzuki Ali sempat mengancam Sekjen untuk di berhentikan, tapi ternyata Bu Sekjen tetap melenggang-lenggok keluar masuk bekerja sampai sekarang. Kursi BANGGAR yang milyaran barangnyapun telah di kembalikan kepada pemasoknya. Tapi….ruang BANGGAR dan permasalahannya lalu di apakan? Dari ruang Komisi pun lahir fenomena baru, karena puluhan Anggotanya masuk bui gara-gara terima cek pelawat dan juga ada yang terkena getah korupsi seperti Nazar yang sampai menyasarkan diri mulai dari Singapure hingga ke Kartagena Amerika Latin. Dan masih banyak yang lainnya di DPR seperti Nazarudin. Misalnya dengan pimpinan DPR yang semula sangat ngotot membangun gedung baru akhirnya kalah oleh kekuatan masyarakat yang menentangnya. Yang mengherankan, dikatakan bahwa gedung lama telah mengalami kemiringan sehingga untuk tidak sempat membahayakan keselamatan Anggota Dewan yang terhomat maka harus di bangun gedung baru dengan biaya 1,6 triliyun rupiah. Maklum, gedung tersebut memiliki fasilitas yang tidak lumrah misalnya fasilitas mandi sauna dan Spa, pertokoan dan lain-lain nya, yang jelas mengundang ocehan yang menyakitkan kepala karena ada unsur pembohongan dan ketidak patutan. Tidak ada yang bisa membuktikan bahwa gedung miring, tak ada yang bisa membuktikan bahwa fasilitas yang ada tidak memadai lagi, akan tetapi Anggota DPR benar-benar dapat membuktikan bahwa dana pembangunan dari rencana 1,6 T bisa turun menjadi 1,2 T dan DPR juga membuktikan bahwa pembangunan gedung akhirnya bisa dibatalkan dan tak ada yang miring.

Selanjutnya, diseluruh daerah ratusan Anggota Dewan yang dijebloskan kedalam penjara karena menilap uang rakyat dan masih lebih banyak permasalahan bangsa ini yang daftarnya terlalu panjang untuk di tulis. Akan tetapi permasalahan-permasalahan yang disebutkan diatas menunjukan bukti galaunya kondisi bangsa sampai ketitik yang paling rendah. Galaunya kepemimpinan yang ada sehingga tidak bisa menjadi panutan, galaunya reformasi yang kebablasan tanpa memiliki etika yang di ajarkan oleh Pancasila, tapi ternyata Pancasila sudah dilupakan. Padahal Pancasila mengajarkan etika, mengajarkan sopan santun, mengajarkan kemandirian, mengajarkan kepemimpinan, serta mengajarkan keramahan maupun kejujuran.

Kalau Pancasila diresapi dan dimaknai, maka tidak akan ada pemimpin yang mau membohongi rakyat dengan mengatakan : “gedung DPR telah mengalami kemiringan sehingga harus diganti, padahal memang tidak terjadi, tidak akan ada Pemimpin Negara yang mengeluh takut di tembak, karena katanya ada ancaman padahal ia memiliki pengamanan yang super ketat. Masih segar dalam ingatan bahwa Presiden Soekarno tidak mengeluh walaupun telah digranat di Cikini Jakarta Pusat pada tahun 1962, karena beliau memiliki keberanian dan kemandirian dan mengetahui resiko seorang pemimpin.

Kini seluruh perekat ideologi bangsa ini mengalami kemerosotan seperti disebutan diatas. Pancasila sebagai ideologi nyaris tidak diajarkan lagi bagaikan  kacang lupa pada kulitnya, tenggelam entah kemana. Lagu Kebangsaan Indonesia Raya hanya dinikmati melalui rekaman, wawasan Nusantara dianggap sebagai slogan kosong yang tidak memiliki makna apa-apa. Sistem kenegaraan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila- UUD 1945 sebagai sistem kenegaraan Pancasila nyaris dilupakan mahasiswa yang sebenarnya adalah calon pemimpin masa depan. Ajaran bahwa filsafat Pancasila memancarkan identitas sebagi keunggulan sistem filsafat Pancasila karena sesuai dengan potensi martabat dan integritas kepribadian masyarakat Indonesia.

Lalu bagaimana menegakkan dan mewariskan serta membudayakan maupun melestarikan nilai-nilai fundamental kebangsaan dan kenegaraan Indonesia yang diamanatkan kedalam fungsi sistem pendidikan Nasional, termasuk kewajiban semua keluarga Negara Republik Indonesia yang memiliki kesetiaan dan kebanggan Nasioal melalui Pancasila? Juga merupakan kewajiban semua pihak, semua pribadi didalam wilayah kekuasaan hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan PANCASILA sebagai pemersatu. ( Paulus Eddy Karnot’ D )

Artikel Terkait

Add comment

Komentar tidak mewakili pandangan umum Majelis Umat Kristen Indonesia. Dilarang untuk berkomentar yang mengandung hujatan, fitnah, SARA dan lainnya yang merusak kedamaian. MUKI berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dianggap tidak layak


Security code
Refresh