Iklan by MUKI

Renungan

KEMENANGAN YANG ABADI

KEMENANGAN YANG ABADI, Lukas 24:1-9

Shalom saudara(i). Minggu prapaskah mengingatkan bersiap sambut hari kemenangan. Ada enam lilin dinyalakan serentak dan dimatikan satu tiap minggu sampai tiba minggu sebelum Jumat Agung. Paskah merupakan lanjutan peristiwa dari minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Peristiwa ini saling terkait satu dengan lainnya. Paulus menulis: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (I Korintus 15:3-4). Paskah peristiwa terbesar dalam sejarah dan menyakinkan bahwa Kristus telah disalibkan dan telah mati dan telah dikuburkan dan telah bangkit pada hari ketiga. Bangkit artinya memenangkan kuasa alam maut. Kematian bukan akhir hidup, tetapi dimulainya kehidupan lain yang berbeda. Lukas menulis secara rinci tentang peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus.

Selanjutnya...

Renungan Singkat

"Tuhan selalu ngasih harapan pada yang ngga menyerah, mujizat pada yang percaya dan Dia nggak ninggalin mereka yang berjalan bersamaNya."

Tanpa Nama

Daerah Perbatasan | Opini
Perbatasan Yang Gelap dan Berlumpur Ternyata Masih Lebih Banyak PDF Cetak E-mail Dibaca: 1176
PostAuthorIcon Paulus Eddy Karnot’ D    PostDateIcon Sabtu, 02 Juni 2012 09:36

Perbatasan Yang Gelap dan Berlumpur Ternyata Masih Lebih BanyakPerbatasan Indonesia dengan Malaysia di Kalimantan meliputi Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat. Perbatasan tersebut seyogianya harus menjadi etalase bangsa karena berada di perbatasan terdepan antara 2 negara. Sehingga seharusnya wajah terdepan ini mendapatkan prioritas pembangunan dalam segala segi terutama dimulai dengan pembangunan infrastruktur jalan dan penerangan.

Selama ini perbatasan di Kalimantan maupun Papua (berbatasan dengan Papua Nugini) selalu digambarkan sebagai kawasan tertinggal, sehingga warga Indonesia hanya menjual dagangannya dan membeli kebutuhannya diluar Indonesia. Berbeda dengan diperbatasan Timor Leste justru mereka yang berbelanja ke Indonesia.

Khususnya di Kalimantan umumnya fasilitas perbatasannya masih sangat minim. Kondisi jalan penuh kubangan sehingga sangat sulit untuk dilalui kendaraan roda 4. Demikian pula dengan fasilitas penerangan boleh dikatakan hampir tidak ada. Kalaupun ada, penerangannyapun hanya yang dibagi dari Malaysia. Lalu rakyat setempat mau berbuat apa?

Saking buruknya fasilitas mereka, sampai seorang Kepala Desa perbatasan menunjukkan kedongkolannya melalui media Televisi Jakarta dengan mengatakan : “kami sudah meminta dan meminta terus agar fasilitas pembangunan infrastruktur jalan dan penerangan maupun pembangunan fasilitas pendidikan dan kesehatan diberikan, namun tak kunjung datang. Sehingga saya sangat khawatir bila nanti rakyat diperbatasan ini ada yang berupaya meminta kewarganegaraan Malaysia. Karenanya pemerintah Indonesia “harus segera”  memfasilitasi pembangunan tersebut agar masyarakat bisa merasa hidup lebih baik dan tidak perlu lagi melongok Malaysia untuk memperoleh fasilitas berbelanja.”

Demikian halnya dengan kondisi jalan Sintang – Nangamerakai sepanjang 90 km di Kabupaten Sintang mengalami kerusakan yang sangat parah, penuh dengan kubangan yang sangat sulit dilalui, kendaraan roda 4 kalaupun sudah memilki fasilitas gardan dua, terutama pada musim hujan, membutuhkan waktu perjalanan sampai dengan 4 jam. Di Kalimantan Timur pun fasilitasnya sama buruk, sehingga kondisi tersebut sangat mengancam terhadap kewarganegaraan warga setempat untuk menjadi warga Negara Malaysia.

Menurut informasi yang bersumber dari masyarakat setempat, sudah ada warga Indonesia yang memiliki 2 kewarganegaraan yaitu Indonesia dan Malaysia. Yang menjadi warga Malaysia  memperoleh fasilitas pelayanan yang lebih baik misalnya, pendidikan. Diperbatasan fasilitas pendidikan yang disediakan Indonesia masih sangat terbatas, sehingga anak-anak sulit memperoh pendidikan, kecuali mereka sekolah menyeberang ke Malaysia dan harus menjadi warga Malaysia seperti dikemukakan diatas tadi.

Lain halnya di Sajinagn Besar Kalimantan Barat yang berbatsan dengan Negara bagian Sarawak Malaysia mulanya adalah kawasan termiskin di Kabupaten Sambas. Tapi sekarang sudah mengalami kemajuan yang lebih baik setelah dibagunnya infastruktur jalan sepanjang 87 km dari Sambas ke Sajingan Besar. Sebelum dibangun jalan tersebut pada tahun 2002, perlu waktu 14 jam perjalanan yang sangat melelahkan dan kalau naik perahu, itupun kalau musim hujan (debit air naik) menempuh perjalanan selama 11 jam. Selain kondisi jalan yang rumit dan sulit, fasilitas pendidikan dan kesehatan pun sangat memprihatinkan.

Namun sekarang, kondisi Sajingan Besar telah berubah dan menjadi salah satu kawasan perbatasan yang telah mengalami kemajuan pesat. Selain fasilitas jalan yang sudah memadai, fasilitas pendidikan dan kesehatan pun berfungsi baik. Sejak Sambas menjadi Ibukota Kabupaten, pemerintah daerah sangat memberikan perhatian khusus pada Kecamatan Sajingan Besar yang berbatasan langsung dengan Malaysia sebagai pintu masuk Indonesia, sehingga sekarang jauh lebih maju dari pada tahun 1999. Demikian dikemukakan oleh Agus Supardan, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sambas. Selain dari pada itu, Pemerintah Kabupatenpun melakukan cara-cara pendekatan budaya Melayu dengan Negara bagian Sarawak. Hal itu dilakukan melalui forum Sosial Ekonomi Malaysia- Indonesia yang antara lain melahirkan kesepakatan bahwa Aruk, kampung terujung di Sajingan Besar yang berbatasan dengan Biawak, akan dijadikan Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) yang biayanya disediakan sebesar Rp. 30 milyar oleh Gubernur Kalimantan Barat.

Berkaitan dengan telah dimulainya pembangunan PPLB Aruk, sejumlah Kementrian dan Lembaga Negara juga mulai memberi perhatian ke Sajingan Besar, sehingga dengan demikian fasilitas pendidikan, kesehatan dan perawatan, jaringan listrik dan jaringan internet dapat terselenggara dan yang lebih menggembirakan bahwa pada akhir Desember 2009, Kementrian Pekerjaan Umum menetapkan jalan Sambas – Sajingan Besar menjadi jalan Nasional dan mendapat dana pinjaman (BPA) pembangunan sebesar Rp. 250 milyar. Dengan beruntunnya perhatian dan fasilitas dari Pusat, maka pertumbuhan ekonomi Sajingan Besar menjadi lebih tinggi dari Sambas.

Itulah ekonomi Sajingan Besar yang bisa menjadi contoh fasilitas pembangunan di Daerah perbatas semoga akan lebih baik lagi serta semoga menyusul kawasan-kawasan lainnya diperbatasan Kalimantan, Papua dan Timur Leste. (Paulus Eddy Karnot’ D)

Artikel Terkait

Add comment

Komentar tidak mewakili pandangan umum Majelis Umat Kristen Indonesia. Dilarang untuk berkomentar yang mengandung hujatan, fitnah, SARA dan lainnya yang merusak kedamaian. MUKI berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dianggap tidak layak


Security code
Refresh