Iklan by MUKI

Renungan

KEMENANGAN YANG ABADI

KEMENANGAN YANG ABADI, Lukas 24:1-9

Shalom saudara(i). Minggu prapaskah mengingatkan bersiap sambut hari kemenangan. Ada enam lilin dinyalakan serentak dan dimatikan satu tiap minggu sampai tiba minggu sebelum Jumat Agung. Paskah merupakan lanjutan peristiwa dari minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Peristiwa ini saling terkait satu dengan lainnya. Paulus menulis: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (I Korintus 15:3-4). Paskah peristiwa terbesar dalam sejarah dan menyakinkan bahwa Kristus telah disalibkan dan telah mati dan telah dikuburkan dan telah bangkit pada hari ketiga. Bangkit artinya memenangkan kuasa alam maut. Kematian bukan akhir hidup, tetapi dimulainya kehidupan lain yang berbeda. Lukas menulis secara rinci tentang peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus.

Selanjutnya...

Renungan Singkat

"Jarak paling jauh antara masalah dengan solusi hanyalah sejauh lutut dengan lantai. Orang yang berlutut pada Tuhan bisa berdiri untuk melakukan apapun !"

Tanpa Nama

Kristen | Pelayanan MUKI
Aliansi Kebangsaan Bentuk Pemimpin Kehidupan PDF Cetak E-mail Dibaca: 1282
PostAuthorIcon Lrd.Khalits/Hanafi    PostDateIcon Jumat, 14 Desember 2012 14:56

Aliansi Kebangsaan yang beranggotakan FKPPI, Partai Golongan Karya, dan YSNB menyelenggarakan dialog kebangsaan secara mandiri untuk pertama kalinya. Dialog yang dihadiri berbagai kalangan, ormas, pelajar, mahasiswa, cendikia, polititisi, pemerintahan dan birokrat, termasuk insan pers tersebut dilaksanakan Kamis (13/12) di Jakarta Convetion Center (JCC), Jakarta.

Sebelumnya, aliansi kebangsaan sudah tiga kali menggelar acara serupa, yaitu tahun 2009, 2010 dan 2011. Namun ketiga kegiatan itu diadakan bersama-sama dengan Partai Golongan Karya, “Tigakali pengalaman mengadakan dialog bersama Partai Golkar itu, dirasa sudah cukup bekal pengalaman untuk menyelenggarakan sendiri dialog kebangsaan ini. “ kata ketua umum Aliasi Kebangsaan Pontjo Sutowo.

Aliansi Kebangsaan yang memiliki moto merdeka – bersatu – berdaulat – adil - Makmur ini menyelenggarakan Dialog kebangsaan akhir tahun dengan tema “Membentuk Pemimpin sebagai Guru Kehidupan”.

Hadir sebagai pembicara yaitu Dr Daoed Joesoef mengusung tema tentang “proses mendidik dan membentuk manusia sebagai guru kehidupan”, Drs H Djafar Assegaf mengulas tentang “Tanggung Jawab dan Peran Media Massa dalam Membentuk Pribadi Pemimpin sebagai guru kehidupan bangsa”, di bidang keamanan hadir Letjen (Purn) Sayidiman Suryohadiprojo membahas tentang “penjaga negara adalah guru kehidupan”, dan sejarawan senior Prof Dr Taufik Abdullah mengangkat tema tentang “Sejarah sebagai guru kehidupan kebangsaan. Bertindak sebagai moderator adalah Ahmad Zacky Siradj.

Selain itu KH Sholahudin Wahid yang juga didaulat sebagai pembicara mengusung tema “Pembudayaan nilai ketauladanan Kebutuhan bagi Menopang hidup kebangsaan”, namun hingga acara berakhir, dia tidak datang.

Beberapa elemen masyarakat dari berbagai organisasi masyarakat turut hadir di acara tersebut, seperti Ketua umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, Ketua umum Majelis Umat Kristiani Indonesia (MUKI) sekaligus juga Pemimpin Umum Mukinews.com, Bonar Simangunsong didampingi beberapa pengurus pusat Ketua YSNB Iman Sunario, Ikatan Dokter Indonesia, mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta dan lain-lain.

Menurut Pontjo Aliansi kebangsaan adalah sebuah perkumpulan sukarela yang didirikan 28 Oktober 2010, oleh beberapa elemen bangsa yang perduli kehidupan berbangsa dan bernegara. “Aliansi ini berdiri dari keprihatinan beberapa elemen bangsa akan gejala merosotnya semangat persatuan dan semangat kebersamaan di dalam masyarakat,” ujar Pontjo.

Faktor penyebab kemerosotan ini adalah terabaikannya membahas nilai-nilai kebersamaan (shared values) yang melandasi kehidupan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.


“Dialog kebangsaan kali ini diselenggarakan guna menjangkau lebih luas seluruh unsur kebangsaan untuk membahas masalah-masalah terkait kepedulian kita semua pada kehidupan kebangsaan,” papar Pontjo.

Aliansi Kebangsaan telah mendatangi berbagai kampus untuk berdialog dengan para mahasiswa dan para guru besar tentang pentingnya revitalisasi kesadaran warga negara tentang bangsa dan NKRI.

Nilai Kebangsaan

Dialog kebangsaan ini mencakup nilai-nilai latar belakang sejarah, latar belakang filsafat, latar belakang konseptual, dari berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Diselenggarakannya dialog ini untuk menyikapi banyak terjadinya konflik berkepajangan di masyarakat hingga kurun waktu bertahun-tahun, baik konflik horizontal seperti konflik antara kelompok, antar desa, antar umat beragama, dan konflik antar suku atau konflik SARA. Maupun konflik vertikal, seperti konflik antar rakyat dengan aparatur negara, yang seringkali berujung kepada serangan dan penghancuran kantor-kantor pemerintah dan kantor-kantor aparatur keamanan sendiri.

Selain itu juga konflik berlarut bersifat internal, yang dipicu hal-hal remeh dan sepele, namun menimbulkan perselisihan antara warga perorangan suatu komunitas yang sama. Konflik-konflik seperti ini bila dibiarkan dapat menyebabkan tidak efektifnya negara dalam menunaikan tugas pokoknya untuk menajmim keamanan. Sehingga dapat menyebabkan melemahnya kepercayaan rakyat terhadap dasar negara. “untuk tercapainya cita-cita nasional dan tujuan nasional, kita membutuhkan berfungsinya seluruh komponen bangsa di negeri ini,” ungkap Pontjo.

Menurut Pontjo, ada beberapa faktor perlu diperhatikan, yaitu perkembangan dunia internasional baik langsung dan tidak langsung mempengaruhi stabilitas kehidupan kebangsaan dan kenegaraan. Diantaranya: pertama, limpahan radikalisme agama yang terjadi dibeberapa kawasan dunia ke daerah-daerah tertentu di tanah air; kedua, revolusi teknologi informasi dan telekomunikasi, yang menyebabkan system nilai kebersamaan yang selama ini kita junjung tinggi. Secara langsung dalam skala massif telah berhadapan dengan nilai hedonisme dan pragmatisme yang terkandung dalam pesan yang dibawa oleh media komunikasi dalam berbagai bentuknya; dan ketiga, gejolak dalam dunia industri di negara-negara yang dilanda resesi khususnya mengenai upah buruh.

Aliansi kebangsaan, dalam hal ini memberikan perhatian khusus kepada pentingnya faktor kepemimpinan nasional baik yang berkiprah dalam bidang pemerintahan politik, ekonomi, sosial, budaya maupun pertahanan keamanan.

Meski kedaulatan di tangan rakyat namun manajemen kedaulatn terletak di tangan para pemimpin. Para pemimpinlah yang mengembangkan visi dan misi, membangun semangat dan dukungan rakyat, menyusun fungsi dan struktur lembaga-lembaga, menggerakkan organisasi, melakukan koordinasi dan sikronisasi kegiatan termasuk memikul seluruh tanggungjawab terhadap keberhasilan atau kegagalan keseluruhan upaya untuk mewujudkan cita-cita nasional.

Selama ini ada dua gelombng kemunculan pemimpin dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pertama adalah para nation-and statebuilders, yaitu para pemimpin yang muncul karena panggilan hati nuraninya untuk membangun bangsa dan negara, seperti para statemen, negarawan yang didorong semangat idealisme dan kesediaan berkorban yang tinggi, bersedia melakukan tindakan apapun demi mengangkat bangsanya dari kemiskinan dan keterbelakangan. “hampir seluruh tokoh nation-and state builders ini sudah mendahului kita,” kata Pontjo.

Kedua, para politicans, administrators dan para opinion makers, yang menggerakan, mengembangkan dan menindaklanjuti berbagai institusi kenegaraan yang telah dibangun para statesmen pendahulunya. “para pemimpin gelobang kedua ini akan tumbuh silih berganti sesuai dengan perkembangan zaman,” ujar Pontjo.

Tantangan yang dihadapi dewasa ini bagaimana agar para politicians administrators dan para opinion makers ini tetap menghayati dan meyakini idealisme yang melatarbelakangi berbagai institusi kenegaraan yang diletakan para pendahulu sekaligus mendidik serta mendidik rakyat yang merupakan pemegang kedaultan tertinggi negara ini. Disisi lain mampu menindaklanjuti idealisme tersebut secara profesional sesuai bidang yang ditekuninya.

Dalam kesempatan dioalog ini Pontjo mengatakan ada beberapa gagasan perkumpulan aliansi kebangsaan yang perlu ditangani di bulan dan tahun-tahun mendatang yaitu, pertama, menghimpun dan mengembangkan dasar-dasar filsafat nusantara dari banyak khasanah kebudayaan daerah serta local genius. Kedua meletakan landasan kerjasama antar suku bangsa, menjadi semacam paguyuban agung nusantara. Ketiga, mendukung gagasan kepemimpinan masyarakat multicultural, yang sudah dirintis oleh Dr Sinyo Hari Sarundayang, Gubernur Provinsi Sulawesi Utara. Keempat, membangun caucus keluarga besar TNI yang mempunyai komitmen yang kuat terhadap pancasila seperti yang tercantum dalam marga pertama sapta marga.

Add comment

Komentar tidak mewakili pandangan umum Majelis Umat Kristen Indonesia. Dilarang untuk berkomentar yang mengandung hujatan, fitnah, SARA dan lainnya yang merusak kedamaian. MUKI berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dianggap tidak layak


Security code
Refresh