Iklan by MUKI

Renungan

KEMENANGAN YANG ABADI

KEMENANGAN YANG ABADI, Lukas 24:1-9

Shalom saudara(i). Minggu prapaskah mengingatkan bersiap sambut hari kemenangan. Ada enam lilin dinyalakan serentak dan dimatikan satu tiap minggu sampai tiba minggu sebelum Jumat Agung. Paskah merupakan lanjutan peristiwa dari minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung dan Sabtu Sunyi. Peristiwa ini saling terkait satu dengan lainnya. Paulus menulis: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci;” (I Korintus 15:3-4). Paskah peristiwa terbesar dalam sejarah dan menyakinkan bahwa Kristus telah disalibkan dan telah mati dan telah dikuburkan dan telah bangkit pada hari ketiga. Bangkit artinya memenangkan kuasa alam maut. Kematian bukan akhir hidup, tetapi dimulainya kehidupan lain yang berbeda. Lukas menulis secara rinci tentang peristiwa kebangkitan Tuhan Yesus.

Selanjutnya...

Renungan Singkat

"Cinta bisa buat orang bahagia; uang bisa buat dunia berputar; tapi sahabat... ah, itu yang buat hidup lebih hidup."

Tanpa Nama

Kristen | Ragam
Kampung Bena Sepi Tanpa Kepentingan PDF Cetak E-mail Dibaca: 1538
PostAuthorIcon Ega Mawardin    PostDateIcon Rabu, 24 Desember 2014 20:30

(sebuah catatan perjalanan di bajawa kabupaten ngada pulau flores)

Kampung Bena Sepi Tanpa Kepentingan"Kampung Bena" mula-mula nama itu terasa asing bagiku, sedikitpun tak menarik perhatian walau disebut sebagai perkampungan tradisional di tanah Flores yang dikenal dengan julukan negeri seribu suku. Tidak diragukan lagi keindahan tanah Flores, setahuku ada dua tujuan wisata dengan keindahan tak tertandingi negeri lain di Pulau Komodo di Kabupaten Manggarai Barat dan Danau Kalimutu di Kabupaten Ende.  Seorang kawan mengusulkan sejenak mampir ke Kampung Bena?  Kampung apa lagi, apa hebatnya? Itulah yang terlintas di dalam pikiranku saat itu. Pembicaraan terhenti sejenak tentang rencana ke Kampung Bena, tak ada kesan, tak ada sedikitpun keinginan mampir. Maklum pembicaraan beralih dengan tujuan baru pemandian air panas di So'a, daerah wisata alam air panas jaraknya sekitar satu jam perjalanan dari Bajawa ibu kota Kabupaten Ngada.

Kampung Bena, kembali muncul dalam perdebatan ketika meneruskan perjalanan ke Ende. Sebagian ingin menggunjungi tempat itu dan ada juga yang menolaknya termasuk aku. Perjalanan masih panjang, Bajawa-Ende ditempuh sekitar tujuh jam dan pikirku untuk apa habiskan waktu menyimpang dua jam hanya untuk mengunjungi sebuah kampung?

Tidak semua mengaminin pendapatku, yang menang ternyata yang suaranya paling keras dan duduknya paling depan. Hanya dengan membisikkan sesuatu pada supir tiba-tiba saja kami menyimpang dari jalan besar menuju perkampungan Bena. Kusadari kini pendapatku tentang kesia-siaan tak digubris. Kelompok yang ingin menikmati keindahan Kampung Bena ternyata menang dalam perdebatan dan kamipun meluncur ke Desa Tiworiwu di Kecamatan Aimere Bukit Inerie sekitar 19 Km di Selatan Bajawa.

Kini kami menuju jalan kecil mulai tanda-tanda perkampungan asri penuh keunikan itu terlihat. Sepanjang jalan bagian kanan terlihat perkebunan tomat sementara di sisi lainnya tanah terjal juga menunggu untuk ditatap. Kini aku menyadari pendapatku tentang kesia-siaan berubah, keindahan hutan hijau berikan kesan berbeda selama beberapa hari ini menjelajahi tanah Flores kami temukan hanyalah kegersangan, bukit batu dan tanah berpasir.

Dari perbukitan terlihatlah pemandangan unik Kampung Bena, terus menuruni bukit menuju lembah dan sekarang dihadapkan pada jalan lurus menuju perkampungan. Kamipun tiba secara perlahan membuka pintu mobil dan menjajalkan kaki di tanah. Awalnya kami hanya berdiri mematung di sisi mobil, menikmatai keadaan yang ada. Sungguh sebuah keajaiban, situasi yang tak terbayangkan sebelumnya. Perkampungan sederhana jauh dari kesan keramaian dan kehirukpikutan.

Kini dihadapan kami berjejer rumah tradisional khas Ngada. Perkampungan tradisional tersusun rapi seperti sebuah bangunan yang dirancang sesuai tata kota. Rumah tradisional beratap tinggi terbuat dari daun ilalang. Rumah-rumah ini berjejer dua baris di atas suatu gundukan dan di antara keduanya terdapat ngadhu dan bhaga dan sebuah bangunan berbentuk kuburan megalistik dari zaman pra-sejarah. Nghadu berbentuk seperti payung setinggi tiga meter yang ditopang oleh tiang kayu berukir, sedangkan bentuk bhaga seperti miniatur rumah yang beratap ilalang. Tata kota yang aneh seakan memang rumah-rumah itu diatur dan segaja didirikan di atas batu-batu yang disusun demikian rapinya.

Dari pintu gerbang tanpa gapura, kami mulai masuk pemukiman. Terus melangkah tentu saja sebelumnya mencatatkan diri pada buku tamu yang disediakan. Kami bukanlah pengunjung pertama di siang itu sebelumnya telah ada dan berjejer nama-nama dalam buku tamu dan hampir semuanya turis manca negara.  Langkah bergerak perlahan menuju hamparan batu yang menjadi halaman rumah besar, menyusuri halaman bertingkat dengan halaman luas semuanya tersusun dari batu-batu tertata rapi.

Kampung Bena terbilang unik, di tengah modernisasi masih tetap setia menjaga warisan leluhur mereka, mulai dari arsitektur rumah hingga kebiasaan lainnya sebagai tradisi. Ada sekitar 16 rumah berdiri kokoh di dalam perkampungan, hampir di tiap rumah terlihat para wanita sedang menenun kain.

Dalam budaya Masyarakat Bena umumnya mempercayai dua bentuk rumah yang bentuknya seperti Jajar Genjang itu untuk simbol Lelaki dan yang bentuknya seperti Kerucut itu simbol untuk wanita. Warga Bena sangat ramah dalam menyambut tamu yang berkunjung, di sambut oleh senyuman khas yang membuat hati merasa nyaman berada di sekitar mereka walaupun dari tampilan akan terlihat ada yang juga sangat menyeramkan.

Kami masih berkeliling melihat-lihat. Tak luput juga memperhatikan satu dua rumah unik dengan puluhan tanduk kerbau yang dijejerkan sebagai hiasan di beberapa tiang rumah. Ada juga beberapa benda-benda aneh, kami tidak bisa memberi arti atas kehadirannya di sisi jalan masuk. Semua itu memberikan kesan magis penuh makna.

Akhirnya harus juga meninggalkan perkampungan itudengan satu cacatan perlu direnungkan kemudian. Sebuah pemukiman penduduk yang jumlahnya puluhan bahkan mungkin sampai pada kisaran ratusan orang semua terlihat sepi. Memang ada sekelompok anak-anak bermain-main itupun terbatasi dengan suara yang tidak terlalu berisik berbeda dengan anak-anak seusianya.

Sungguh suatu perkampungan unik. Kampung Bena yang sepi dan tanpa kepentingan. Pada akhirnya kamipun harus membatasi waktu kembali ke kendaraan meneruskan perjalanan. Dan sebelum kami semuanya naik mobil aku bertanya pada teman yang duduk paling depan apa yang dibisikkan pada supir sampai dengan mudahnya tanpa berbantah suka rela bahkan dengan senyum mengantar kami ke perkampungan Bena. Kawan itu hanya tersenyum membisikkan padaku "aku menawarkannya sejumalah uang padanya sebagai bonus" katanya dengan senyum kemenangan.

Kini telah kembali aku di rumahku, kota Tangerang Selatan. Kenangan tentang perkampungan Bena masih saja terbayang, sepi tanpa kepentingan. Terlihat tenang tak ada kepentingan yang harus bersinggungan satu dengan lainnya, semuanya terlihat damai. Sungguh berbanding terbalik dengan kampungku di kawasan Pamulang yang hiruk pikuk dengan berbagai kepentingan yang kadang harus menarik urat leher dan mengerutkan kening hanya untuk melintasi jalan yang telah menjadi lautan kendaraan.

Add comment

Komentar tidak mewakili pandangan umum Majelis Umat Kristen Indonesia. Dilarang untuk berkomentar yang mengandung hujatan, fitnah, SARA dan lainnya yang merusak kedamaian. MUKI berhak untuk tidak menampilkan komentar yang dianggap tidak layak


Security code
Refresh